Tampilkan postingan dengan label My Opinion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Opinion. Tampilkan semua postingan
Senin, 22 Desember 2008

Learn To Speak English

Talking in English, who is telling difficult ? who is telling an easy ?. That all is true. Difficult because the language is not mother tongue or we not to use everyday. Easy, because each the human being language can to be study. Anyone can do it guys !
Are you belive it ? Bring your younger sister or younger brother under five to the Madura Island, remain there sometimes, surely your younger sister or younger brother can speak in Madura language. That also to talking in English. Like child under five, hear repeatedly and then imitated-as much as possible. That is a Natural law. But, why we have learned since the Elementary school ( SD) still can not also ?. Maybe we often do mistakes, if someone of us trying to speak in foreign language. We laugh if the someone who talking is heard to stutter nervous. As a result, we not dare to try forever, because we also fear to be laughed by the other
Though we know if the foreigner which is talking in our language and then heard bizarre and many wrong, surely we also understand why the foreigner happened diffulty. For example also, we who seldom in the High Javanese Language (kromo inggil) will be joke to old fellows but they understand why that happened.
So, if you want to speak in English fluently, use the keys are :trying without fearing wrong (feel ashamed to be eliminated)-face cover with mask, often familiarize (open mouth with expantion), do not fear to be laugh (ear cover with cotton) and do not also like to laugh at the others (shout mouth with handkerchief)
Learn foreign language like English, need thick face ( shameless), little deaf (stubborn) and little fussy (sharp-tongued). I do not have to be ashamed of you. Because I am not very shy too.
Weel know, it is proof, I am only knowing just a little, but I have dare to show my knowledge that a little to you. If I talk at random, who knows-who cares?. Just so-so.
BELUM BISA MENERIMA KEKALAHAN, BELUM SIAP UNTUK JADI PEMENANG.
Pastilah teman2 sadari atau tidak, dalam kehidupan ini kita akan selalu berhadapan dengan kalah dan menang. Mulai hal-hal kecil seperti ulangan yang super sulit, pemilihan ketua kelas, ambisi masuk jurusan incaran sampai hal-hal besar seperti ikutan perlombaan dan kontes-kontes bergengsi. Tentu saja itu semua akan diakhiri dengan satu titik, menang atau kalah. Well…, jika kita berhasil jadi pemenang pastilah kita akan merasa senang dan puas banget. Semua orang akan memberi ucapan selamat dan memuji-muji and surely ada suatu kebanggaan yang gak dirasakan oleh semua orang. But, gimana kalo kita ada di pihak kalah? . Kita akan mengasosiasikan kekalahan sama dengan malu besar-besaran, perasaan iri dan dengki kepada pihak pemenang atau bahkan kita akan terpuruk dan menganggap diri kita sebagai pecundang. Hal ini akan menjadi-jadi dengan adanya pandangan orang-orang tidak bisa menerima kekalahan sebagai sesuatu yang wajar. Biil Ps Lim dalam bukunya Dare To Fail mengatakan bahwa manusia cenderung menilai kemenangan dengan terlalu tinggi, namun memilik toleransi yang amat sedikit terhadap kekalahan.
Sebagai contoh kita tengok saja dunia politik di negeri kita. Ketika sedang marak pemilihan wakil rakyat para kandidat akan berusaha supaya mereka bisa terpilih. Bahkan menghalalkan segala cara. Dan ketika hasil pemungutan suara keluar, mereka tidak bisa bersikap sportif. Pihak kalah akan berusaha menyerang si pemenang dengan argumen-argumen yang tidak valid untuk menjatuhkan pemenang.
Dari contoh diatas kita menyimpulkan bahwa banyak individu akan melakukan banyak cara untuk menang yang dianggap sebagai kunci sukses. Padahal ukuran kesuksesan seseorang tidak dinilai berdasarkan besar atau kecilnya kemenangan. Mungkin selama ini kita mengasosiasikan sukses atau prestasi identik dengan kemenangan. Padahal, selama kita masih bisa mendapatkan pelajaran dari menang atau kalah artinya kita sudah sukses.
Ketika kita siap untuk berkompetisi, kita sudah tahu akan ada yang kalah dan menang. So jangan cuma mempersiapkan mental untuk menang, namun persiapkanlah juga mental untuk kalah. Karena yang sudah siap untuk kalah dan menanglah yang pantas untuk jadi pemenang. Lantas apakah yang harus kita lakukan ketika kalah? . Tentu kita gak boleh merasa berkecil hati atau putus asa. Karena kekalahan adalah hal yang wajar, bukan juga hal yang salah. kita harus senantiasa optimis dan survive. Jadikanlah pengalaman kekalahan dimasa yang lampau sebagai cambuk untuk jadi seorang pemenang. Jangan merasa terpuruk dan gak berani mencoba berkompetisi untuk selamanya. Ayo semangat berkompetisi , ok !.
 
The Secret Happines Is LOve © 2008. Template Design By: SkinCorner